Salah satu yang menjadi ibadah yang paling utama adalah saling mencintai hanya karena Allah SWT dan menjalin persaudaraan didalam agama-Nya, itu termasuk buah dari akhlak yang baik, dan kedua-duanya merupakan perilaku terpuji. Mengenai akhlak terpuji, Allah SWT berfirman, “ Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung “. (Q.S. Ali Imran : 103)
Rasulullah Saw bersabda dalam suatu hadits, “ Sesungguhnya yang terdekat dariku diantara kamu adalah yang terbaik akhlaqnya diantara kamu serta merendahkan diri, yang mencintai dan dicintai “.
Sabda Rasulullah Saw lainnya, “ Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, maka Allah mengaruniainya seorang teman yang shaleh. Apabila ia lupa, diingatkannya, dan jika ia ingat, dibantunya”.
Sabda Rasulullah Saw lainnya, “ Barangsiapa yang bersaudara dengan seseorang hanya karena Allah SWT, maka Allah SWT, akan mengangkatnya satu derajat di surge yang tidak didapatkannya dengan sesuatu amalan “.
1. ARTI PERSAUDARAAN KARENA ALLAH SWT. DAN PERBEDAANNYA, SERTA PERSAUDARAAN KARENA KEDUNIAAN
Rasulullah Saw telah bersabda, “ Para arwah itu ialah pasukan yang dikumpulkan, mana yang saling bersesuaian akan bersatu, serta mana yang saling bertentangan akan berpisah “.
Dalam sabda lainnya, “ Sesungguhnya arwah dua orang mukminyang bertaqwa akan bertemu dalam jarak sehari, sedangkan yang satu tidak pernah melihat temannya “.
Manusia yang dicintai orang lain, pastilah manusia yang mencintai orang lain, sebab prilakunya yang terpuji, atau budi pekertinya yang luhur. Atau menjadi mediator untuk tujuan-tujan atau permasalahan yang terjadi diluar dirinya yang tujuan tersebut berkaitan dengan kemaslahatan duniawi.
Atau bisa juga menjadi “alat” untuk mendapatkan bagian di akhirat, atau memang karena Allah SWT semata. Demi Allah, tidak akan ada 1 manusia pun yang akan mendapatkan dunia maupun akhirat, kecuali dia merupakan hamba Allah. Maka, barangsiapa yang yang menyukai sesuatu, maka iapun akan mencintai orang yang mencintainya. Inilah yang dinamakan persaudaraan karena Allah ta’ala.
Sebagaimana cinta yang harus karena Allah, maka kebencian juga harus karena Allah semata. Barangsiapa mencintai seorang manusia karena ia kekasihnya dan kekasihnya taat kepadanya, maka haruslah kita membencinya musuhnya karena ia telah mendurhakainya. ( Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali )
2. MEMILIH TEMAN
Tidak semua orang pantas untuk dijadikan sebagai seorang teman, terlebih sahabat, Rasulullah Saw bersabda, “ Manusia itu mengikuti kebiasaan temannya, maka hendaklah seseorang dari kamu melihat siapa yang akan dijadikan teman “. Untuk menjadikan seseorang sebagai teman, hendaklah mempertimbangkan sejumlah perkara. Ia harus berakal, dan berakhlak baik, tidak fasik, tidak melakukan bid’ah serta tidak berambisi atas keduniaan. Akal disana dapat digunakan sebagai modal.
Oleh karena itu, memutus hubungan dengan orang dungu itu merupakan salah satu pendekatan kepada Allah SWT. Begitu juga halnya dengan orang fasik, tidak ada faedahnya jika terus berteman dengangnya, sebab siapa yang takut kepada Allah, ia pun tidak akan terus menerus melakukan dosa besar, dan siapa yang tidak takut kepada Allah, maka ia pun sengan mengganggu orang lain.
Firman Allah SWT, “ Dan janganlah kamu mengikuti oarnag yang hatinya telah Kami lalaikan dari Mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya “. ( Q.S. Al-Kahfi : 28 )
Ali bin Abi Thalib berkata, “ Sesungguhnya saudaramu yang sebenarnya ialah orang yang bersamamu, dan merugikan dirinya utnutk memberimu manfaat. Dan apabila terjadi musibah, ia akan datang, ia korbankan dirinya untuk menolongmu “.
3. HAK-HAK PERSAUDARAAN DAN PERSAHABATAN
Tali persaudaraan anatara dua orang atau lebih itu layaknya ikatan pernikahan sepasang suami istri. Yang akan menuntut hak-hak atas mereka dalam harta dan jiwa, lisan dan hati, maaf dan do’a, keikhlasan, kesetiaan, dan tidak memaksakan diri. Penjabarannya antara lain sebagai berikut :
Yang pertama, mengenai harta, minimal anggaplah ia seperti budak kita, sehingga semua urusannya menjadi urusan kita, dan penengahnya adalah diri kita sendiri. Sebab persaudaraan itu dapat menimbulkan persekutuan dan persamaan. Tapi, yang paling mulia adalah kita lebih mengutamakannya, sehingga kita mengorbankan urusan kita agar keadaannya menjadi teratur. Hal ini disabdakan Rasulullah Saw, “ Tidaklah dua orang yang berteman, melainkan yang paling dicintai Allah SWT, ialah orang yang paling lembut kepada temannya “.
Yang kedua, menolong temn didalam memenuhi kebutuhannya, dan mengerjakannya sebelum diminta. Ini mempunyai derajat-derajat yang menyamai derajat harta seperti dalam tiga kedudukannya.
Yang ketiga, tidak menghadapinya dengan sesuatu yang tidak disukainya. Perlu kita ketahui, sesungguhnya yang diridhai Allah SWT adalah orang-orang yang berakhlak dengan akhlak-Nya dan Allah-lah yang menutupi kejelekan dan mnegampuni dosa-dosa. Iman seseorang tidak dapat dinilai sempurna sampai dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri
Yang keempat, menyampaikan pujian yang ia sukai tanpa keluar dari kebenaran. Rasulullah Saw bersabda, “ Apabila seseorang dari kamu mencintai saudaranya, maka hendaklah ia mengabarinya “. Itu karena, melalui pujian-pujian itulah akan menambah kecintaan kita kepada mereka, dan kecintaan mereka kepada kita.
Yang kelima, kesetiaan dan keikhlasan, yaitu dengan selalu mencintai saudaranya sampai mati dan mencintai anak-anak dan teman-temannya sesudah mati. Perlu kita ketahui, bahwa kesetiaan yang baik itu termasuk iman serta pengamalan agama. Kita sepatutnya selalu melihat keutamaan saudara kita, bukan diri kita semata.
4. HAK-HAK MUSLIM, SANAK FAMILI, DAN TETANGGA
Adapunyang dinamakan sebagai hak-hak muslim adalah apabila bertemu dengannya, maka kita wajib memberinya salam serta mendatangi undangannya, mendoakannya saat ida bersin, apabila ia sakit, kita wajib menjenguknya, menshalati jenazahnya apabila ia mati, apabila ia bersumpah, maka bantulah ia untuk memenuhi sumpahnya, jika ia meminta nasehat, maka berikan nasehat kepadanya, jika ia tidak memiliki teman yang mencintainya seperti ia mencintai dirinya sendiri, maka kita wajib memelihara kehormatannya, dan tidak menyukai apa yang menimpa dirinya, layaknya sesuatu yang menimpa diri kita sendiri. Rasulullah Saw bersabda, “ Empat perkara yang termasuk hak-hak orang muslim atas dirimu, yakni engkau tolong orang yang berbuat baik di antara mereka serta memohon ampun bagi yang berdosa diantara mereka, engkau doakan orang yang berpaling, dan menerima penyesalan orang yang menyesal diantara mereka “.
Kita juga hendaknya tidak mengganggu sesorang dari kaum muslim dengan berbagai perbuaatn dan perkataan, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “ Orang muslim itu ada;ah tidak suka mengganggu orang-orang muslim dengan lisan dan tangannya “.
Kepada setiap muslim, hendaklah kita selalu merendahkan diri dan tidak bersikap sombong, karena Allah sendiri tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. Apabila ada seseorang bersikap sombong kepada kita, maka Allah menyuruh kita untuk bersabar, sebagaimana firman Allah SWT, “ Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang untuk mengerjakan amar ma’ruf dan berpaling kepada orang-orang yang bodoh “ (Q.S. Al-A’raf : 199)
Tidak termasuk orang yang beriman apabila memutuskan hubungan kepada orang yang dikenalnya lebih dari tiga hari, kecuali dengan izin-Nya, maka bergaullah dengan akhlak yang baik, hormatilah yang lebih tua, sayangilah yang lebih muda, bersikap ramahlah kepada seluruh manusia, dan tidaklah ia berjanji kepada seorang muslim, kecuali ia penuhi janjinya. Dan mendamaikan pihak-pihak yang berselisih diantara kaum muslimin merupakan tugas yang sangat mulia.
Read More..
info seputar Islam, yang mungkin hanya sedikit orang yg belum mengetahui. blog ini berisi materi, seperti solat jumat, zakat, infak, sedekah, solat, ilmu dan belajar, serta pengetahuan2 Islam lainnya yg patut kita ketahui.
Selasa, 14 September 2010
AQIDAH / KEYAKINAN
1. AQIDAH AHLUS SUNNAH
Aqidah ahlus sunnah adalah keyakinan terhadap Allah SWT yang Maha Tinggi lagi Maha Suci sebagai satu-satunya Tuhan, tiada sekutu bagi-Nya, tunggal tiada yang menyerupai-Nya, bersifat qadim tanpa awal, Azal tanpa permulaan, hidup kekal tanpa akhir, abadi tanpa penghabisan, hidup terus tanpa terputus dengan batasan dunia, dan Dia juga lah yang permulaan, akhir dan yang batin.
2. PENSUCIAN ALLAH ( TANZIH )
Allah bukanlah tubuh yang berbentuk yang terbatas dan tertentu. Allah tidak menyerupai tubuh-tubuh makhluk hidup ciptaan-Nya, baik dalam ukuran maupun dalam hal dapat terbagi. Tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya dan Dia tidak menyerupai apapun. Allah tidak dibatasi oleh ukuran, dan tidak dibatasi oleh bumi maupun langit.
Allah bersemayam diatas tahta dengan cara seperti yang dikatakan-Nya, dan dengan arti yang diinginkan-Nya, persemayaman-Nya suci dari sentuhan, tidak menetap dan tidak berdiam maupun pindah, serta tidak dipukul oleh Arsy. Bahkan, Arsy serta para malaikat pemikulnya dipukul dengan kekuasaan-Nya yang lembut serta tunduk dalam genggaman-Nya.
Allah berada diatas Arsy dan diatas segala sesuatu, hingga sebatas bumi, keteratasan-Nya tidak menambah kedekatan-Nya dengan Arsy dan langit, maupun menambah kejauhan-Nya dari langit dan tanah. Meskipun di artikan seperti itu, Allah selalu dekat dengan makhluk-Nya, bahkan diumpamakan lebi dekat daripada urat leher makhluk-Nya, karena Dialah yang Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.
Allah tidak masuk dalam kategori sesuatu, dan tidak satu pun yang masuk didalam-Nya. Maha Suci Dia mendiami suatu tempat dari keterbatasan zaman. Bahkan sebelum Allah menciptakan zaman dan tempat, sampai sekarang masih begitulah keadaan-Nya. Allah berbeda dari makhluk-Nya dengan sifat-sifat-Nya yang tidak memiliki apapun didalam-Nya selain Allah itu sendiri.
Allah selalu suci dari perpindahan dan perubahan. Tidaklah Dia ditempati oleh hak-hak yang buruk serta tidak ditempati oleh awaridl. Bahkan Allah masih memiliki sifat-sifat keagungan serta selalu suci dari kebinasaan. Allah tidak memerlukan penyempurnaan dalam sifat-sifat-Nya yang sempurna. Dalam zat Allah, diketahui wujud-Nya dengan akal serta dapat dilihat zat-Nya dengan pandangan sebagai kenikmatan-Nya serta karunia bagi orang-orang yang shaleh di akhirat dan sebagai pelengkap kenikmatan dengan memandang kepada wajah(zat)-Nya yang mulia.
Subhanallah ..
3. YANG MAHA HIDUP DAN MAHA KUASA
Allah SWT itu kekal, Maha berkuasa dan Maha menaklukan. Allah tidak mengalami kekurangan serta kelemahan. Allah tidak pernah merasa mengantuk, meskipun Allah tidak pernah tidur, tidak mengalami kematian dan kebinasaan, penciptaan, serta perintah, sedangkan langit terlipat dengan kekuasaan-Nya. Hanya Allah yang berkuasa menciptakan makhluk beserta amalan mereka, serta Dialah yang menentukan rizqi serta ajal mereka. Kekuasaan-Nya tidak pernah terhitung dan pengetahuan-Nya tidak pernah berakhir.
4. YANG MAHA MENGETAHUI
Semua pengetahuan, Allah mengetahuinya. Meskipun disembunyikan ke dasar bumi sekalipun. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu yang terjadi dari perbatasan bumi hingga langit tertinggi. Tidak tersembunyi daripada pengetahuan-Nya benda seberat kapaspun di bumi dan di langit. Bahkan Allah mengetahui jalannya semut hitam di atas batu hitam di malam yang gelap. Allah mengetahui gerakan debu di udara serta mengetahui rahasia maupun yang lebih tersembunyi daripada itu. Allah mengetahui suara hati nurani serta gerak hati semua makhluk-Nya.
5. YANG MAHA BERKEHENDAK
Segala sesuatu yang terjadi, pasti lah sesuai dengan kehendak Allah, Dialah yang menghendaki adanya makhluk dan yang mengatur semua peristiwa. Maka, tidak akan terjadi terjadi sesuatu didalam kekuasaan dan kerajaan-Nya, baik sedikit maupun banyak, kecil maupun besar, baik maupun buruk, manfaat ataupun bahaya, iman ataupun kufur, keberuntungan ataupun kerugian, pertambahan atau kekurangan, ketaatan atau kedurhakaan, kecuali dengan ketetapan serta takdir-Nya, hikmah serta kehendak-Nya. Tidaklah keluar dari kehendak Allah lah pandangan sekaligus pemikiran yang terlintas di otak manusia. Apa yang tidak dikehendaki-Nya, tidaklah terjadi. Dialah yang memulai penciptaan dan yang menghidupkan kembali, serta yang melakukan apa yang dikehendaki-Nya.
Tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya serta tidak ada yang menambah ketetapan-Nya. Tidak ada jalan bagi hamba-Nya untuk menghindar dari kehendak Allah, kecuali dari taufik dan rahmat-Nya. Tidak ada kekuatan bagi kita, umat manusia untuk mentaati-Nya, kecuali dengan kecintaan dan kehendak dari Allah SWT. Seandainya manusia, jin, malaikat dan setan berkumpul untuk menggerakkan sebutir debu atau untuk mendiamkannya tabpa ada kehendak serta serta keinginan-Nya, niscaya semua itu tidak akan sanggup melakukannya. Kehendak Allah berdiri sendiri diantara sejumlah sifat-Nya serta tetap memiliki sifat tersebut. Dia menghendaki dalam setiap azal-Nya tanpa maju ataupun mundur. Allah mengatur segala urusan bukan dengan menggunakan pikiran, ataupun dengan menunggu waktunya. Oleh karena itu, Allah tidak disibukkan dengan suatu urusan dari urusan lainnya.
6. YANG MAHA MENDENGAR LAGI MAHA MELIHAT
Allah SWT itu sendiri Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Dan Dia selalu mendengar dan melihat tanpa pernah sedetikpun berhenti. Tidak ada satupun yang tersembunyi dari pendengaran-Nya suatu suara walaupun sangat pelan. Dan tidak ada yang hilang dari penglihatan Allah satu benda pun, meskipun itu benda yang sangat kecil. Pendengaran dan penglihatan-Nya tidak terhalang oleh sesuatu. Allah maha mengetahui atas segala sesuatu.
7. AL-KALAM ( BICARA )
Allah SWT berbicara, menyeru, melarang, berjanji, mengancam dengan kalam Azali yang Qadim (lama) serta yang berdiri sendiri tidak menyerupai kalam (pembicaraan) makhluk. Kalam-Nya bukan merupakan suara yang timbul dari aliran udara ataupun dari benturan benda-benda serta tidak berupa huruf yang terputus dengan menggerakkan bibir serta tulisan.
Al-Qur’an, Taurat, Zabur, bahkan Injil adalah Kalam-Nya dan kitab-kitab-Nya yang telah diturunkan kepada rasul-rasul-Nya, sedangkan Al-Qur’an dibaca dengan lisan yang tertulis dalam mushaf-mushaf dengan zat Allah SWT tidak dapat terlepas maupun terpisah dengan mendengar kalam Allah tanpa suara maupun huruf sebagaimana orang-orang saleh melihat Zat Allah SWT tanpa jauhar maupun ardl. Maha Benar Allah yang hidup kekal, Maha Mengetahui, Maha Berkuasa, Maha Berkehendak, Maha Mendengar, Maha Melihat dan Berbicara dengan kehidupan, pengetahuan, penglihatan, serta perkataan.
8. PERBUATAN – PERBUATAN ALLAH
Adapun para makhluk yang diciptakan oleh Allah karena perbuatan-Nya dengan bentuk yang sebaik-baiknya, paling sempurna, dan paling bagus sesuai dengan keadilan-Nya. Sesungguhnya Allah SWT itu Maha Bijaksana dalam perbuatan-Nya dan Maha Adil dalam keputusan-Nya. Tidak bisa kita samakan, keadilan yang diberikan Allah dengan keadilan yang diberikan seorang hamba-Nya, karena dianggap kezaliman jika hamba bertindak pada milik orang lain, sedangkan Allah SWT tidak demikian. Sebab Allah SWT tidak bertindak atas milik orang lain, sehingga tidak dianggap kezaliman. Segala sesuatu seperti jin, manusia, setan, malaikat, langit, bumi, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda mati, jauhar, ardl, diciptakan-Nya dengan kekuasaan-Nya serta dulunya tidak ada dan tidak bewujud
Allah SWT memberikan pahala kepada hamba-hamba-Nya atas ketaatan mereka sebagai kemurahan-Nya, bukan karena harus dan wajib diberi. Allah ta’ala mewajibkan makhluk-makhluk-Nya untuk taat kepada-Nya melalui lisan nabi-nabi-Nya, bukan karena akal semata, tapi Allah mengutus Rasul serta menampakkan kebenaran mereka dengan mukjizat yang jelas. Maka mereka pun menyampaikan perintah, larangan, janji, serta ancaman-Nya dan mewajibkan manusia mempercayai apa-apa yang telah mereka sampaikan.
9. ARTI “ KALIMAT YANG KEDUA “
Maksudnya adalah kesaksian bagi Rasulullah Saw. Allah SWT mengutus rasul, nabi yang ummi, orang Quraisy yang member petunjuk, Muhammad Saw yang membawa risalah-Nya kepada seluruh bangsa Arab dan bangsa-bangsa lainnya, jin serta manusia. Maka Allah menghapus semua syari’at dengan syari’at-Nya, kecuali yang ditetapkan-Nya, dan Allah melebihkan beliau ata Nabi-Nabi lainnya serta menjadikannya pemimpin manusia.
Iman tidaklah sempurna dengan syahadat tauhid, yakni oerkataan Laa illaha illallah, jika ia tidak bergandengan dengan syahadat Rasul Saw, yakni pernyataan kita yang meyakini Muhammad sebagai Rasulullah. Allah mewajibkan manusia untuk mempercayainya dalam semua yang disampaikannya tentang dunia akhirat.
10. MEMBIMBING SECARA BERANGSUR
Ketahuilah bahwa anak kecil diawal prtumbuhannya siap menerima kebenaran tanpa bukti dengan fitrah dari Allah SWT, maka hendaklah kita mengajarkan mereka hakikat aqidah agar mereka menghapalnya. Biarkan mereka memahaminya sedikit demi sedikit hingga meresap ke dalam batinnya, sehingga mereka tidak perlu membuktikan hal itu dengan bukti-bukti.
11. ISLAM ITU TUNDUK DAN BERSERAH DIRI, SEDANGKAN IMAN ADALAH PENERIMAAN OLEH HATI
Allah SWT menyebut kedua kalimat di atas dalam kitab suci Al-Qur’an dan dimaksudkannya mengenai suatu hal. Sebagaimana firman Allah , “ lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati negeri itu, kecuali sebuah rumah dan mereka yang berserah diri “ . ( Q.S. Adz-Dzaariyat : 35-36 )
Di tempat itu tidak ada apapun kecuali hanya sebuah rumah. Allah menyebut pula keduanya sekali dengan dua arti yang berbeda dalam firman-Nya, “ Orang-orang Arab Badui itu berkata, “ Kami telah beriman “. Katakanlah (kepada mereka) kamu belum beriman, akan tetapi katakanlah kami telah tunduk “. (Q.S. Al-Hujurat : 14)
Maksudnya, banyak orang yang dirinya telah tunduk kepada Islam, tapi hati mereka tidak menerimanya. Naudzubillah.
Read More..
Aqidah ahlus sunnah adalah keyakinan terhadap Allah SWT yang Maha Tinggi lagi Maha Suci sebagai satu-satunya Tuhan, tiada sekutu bagi-Nya, tunggal tiada yang menyerupai-Nya, bersifat qadim tanpa awal, Azal tanpa permulaan, hidup kekal tanpa akhir, abadi tanpa penghabisan, hidup terus tanpa terputus dengan batasan dunia, dan Dia juga lah yang permulaan, akhir dan yang batin.
2. PENSUCIAN ALLAH ( TANZIH )
Allah bukanlah tubuh yang berbentuk yang terbatas dan tertentu. Allah tidak menyerupai tubuh-tubuh makhluk hidup ciptaan-Nya, baik dalam ukuran maupun dalam hal dapat terbagi. Tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya dan Dia tidak menyerupai apapun. Allah tidak dibatasi oleh ukuran, dan tidak dibatasi oleh bumi maupun langit.
Allah bersemayam diatas tahta dengan cara seperti yang dikatakan-Nya, dan dengan arti yang diinginkan-Nya, persemayaman-Nya suci dari sentuhan, tidak menetap dan tidak berdiam maupun pindah, serta tidak dipukul oleh Arsy. Bahkan, Arsy serta para malaikat pemikulnya dipukul dengan kekuasaan-Nya yang lembut serta tunduk dalam genggaman-Nya.
Allah berada diatas Arsy dan diatas segala sesuatu, hingga sebatas bumi, keteratasan-Nya tidak menambah kedekatan-Nya dengan Arsy dan langit, maupun menambah kejauhan-Nya dari langit dan tanah. Meskipun di artikan seperti itu, Allah selalu dekat dengan makhluk-Nya, bahkan diumpamakan lebi dekat daripada urat leher makhluk-Nya, karena Dialah yang Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.
Allah tidak masuk dalam kategori sesuatu, dan tidak satu pun yang masuk didalam-Nya. Maha Suci Dia mendiami suatu tempat dari keterbatasan zaman. Bahkan sebelum Allah menciptakan zaman dan tempat, sampai sekarang masih begitulah keadaan-Nya. Allah berbeda dari makhluk-Nya dengan sifat-sifat-Nya yang tidak memiliki apapun didalam-Nya selain Allah itu sendiri.
Allah selalu suci dari perpindahan dan perubahan. Tidaklah Dia ditempati oleh hak-hak yang buruk serta tidak ditempati oleh awaridl. Bahkan Allah masih memiliki sifat-sifat keagungan serta selalu suci dari kebinasaan. Allah tidak memerlukan penyempurnaan dalam sifat-sifat-Nya yang sempurna. Dalam zat Allah, diketahui wujud-Nya dengan akal serta dapat dilihat zat-Nya dengan pandangan sebagai kenikmatan-Nya serta karunia bagi orang-orang yang shaleh di akhirat dan sebagai pelengkap kenikmatan dengan memandang kepada wajah(zat)-Nya yang mulia.
Subhanallah ..
3. YANG MAHA HIDUP DAN MAHA KUASA
Allah SWT itu kekal, Maha berkuasa dan Maha menaklukan. Allah tidak mengalami kekurangan serta kelemahan. Allah tidak pernah merasa mengantuk, meskipun Allah tidak pernah tidur, tidak mengalami kematian dan kebinasaan, penciptaan, serta perintah, sedangkan langit terlipat dengan kekuasaan-Nya. Hanya Allah yang berkuasa menciptakan makhluk beserta amalan mereka, serta Dialah yang menentukan rizqi serta ajal mereka. Kekuasaan-Nya tidak pernah terhitung dan pengetahuan-Nya tidak pernah berakhir.
4. YANG MAHA MENGETAHUI
Semua pengetahuan, Allah mengetahuinya. Meskipun disembunyikan ke dasar bumi sekalipun. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu yang terjadi dari perbatasan bumi hingga langit tertinggi. Tidak tersembunyi daripada pengetahuan-Nya benda seberat kapaspun di bumi dan di langit. Bahkan Allah mengetahui jalannya semut hitam di atas batu hitam di malam yang gelap. Allah mengetahui gerakan debu di udara serta mengetahui rahasia maupun yang lebih tersembunyi daripada itu. Allah mengetahui suara hati nurani serta gerak hati semua makhluk-Nya.
5. YANG MAHA BERKEHENDAK
Segala sesuatu yang terjadi, pasti lah sesuai dengan kehendak Allah, Dialah yang menghendaki adanya makhluk dan yang mengatur semua peristiwa. Maka, tidak akan terjadi terjadi sesuatu didalam kekuasaan dan kerajaan-Nya, baik sedikit maupun banyak, kecil maupun besar, baik maupun buruk, manfaat ataupun bahaya, iman ataupun kufur, keberuntungan ataupun kerugian, pertambahan atau kekurangan, ketaatan atau kedurhakaan, kecuali dengan ketetapan serta takdir-Nya, hikmah serta kehendak-Nya. Tidaklah keluar dari kehendak Allah lah pandangan sekaligus pemikiran yang terlintas di otak manusia. Apa yang tidak dikehendaki-Nya, tidaklah terjadi. Dialah yang memulai penciptaan dan yang menghidupkan kembali, serta yang melakukan apa yang dikehendaki-Nya.
Tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya serta tidak ada yang menambah ketetapan-Nya. Tidak ada jalan bagi hamba-Nya untuk menghindar dari kehendak Allah, kecuali dari taufik dan rahmat-Nya. Tidak ada kekuatan bagi kita, umat manusia untuk mentaati-Nya, kecuali dengan kecintaan dan kehendak dari Allah SWT. Seandainya manusia, jin, malaikat dan setan berkumpul untuk menggerakkan sebutir debu atau untuk mendiamkannya tabpa ada kehendak serta serta keinginan-Nya, niscaya semua itu tidak akan sanggup melakukannya. Kehendak Allah berdiri sendiri diantara sejumlah sifat-Nya serta tetap memiliki sifat tersebut. Dia menghendaki dalam setiap azal-Nya tanpa maju ataupun mundur. Allah mengatur segala urusan bukan dengan menggunakan pikiran, ataupun dengan menunggu waktunya. Oleh karena itu, Allah tidak disibukkan dengan suatu urusan dari urusan lainnya.
6. YANG MAHA MENDENGAR LAGI MAHA MELIHAT
Allah SWT itu sendiri Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Dan Dia selalu mendengar dan melihat tanpa pernah sedetikpun berhenti. Tidak ada satupun yang tersembunyi dari pendengaran-Nya suatu suara walaupun sangat pelan. Dan tidak ada yang hilang dari penglihatan Allah satu benda pun, meskipun itu benda yang sangat kecil. Pendengaran dan penglihatan-Nya tidak terhalang oleh sesuatu. Allah maha mengetahui atas segala sesuatu.
7. AL-KALAM ( BICARA )
Allah SWT berbicara, menyeru, melarang, berjanji, mengancam dengan kalam Azali yang Qadim (lama) serta yang berdiri sendiri tidak menyerupai kalam (pembicaraan) makhluk. Kalam-Nya bukan merupakan suara yang timbul dari aliran udara ataupun dari benturan benda-benda serta tidak berupa huruf yang terputus dengan menggerakkan bibir serta tulisan.
Al-Qur’an, Taurat, Zabur, bahkan Injil adalah Kalam-Nya dan kitab-kitab-Nya yang telah diturunkan kepada rasul-rasul-Nya, sedangkan Al-Qur’an dibaca dengan lisan yang tertulis dalam mushaf-mushaf dengan zat Allah SWT tidak dapat terlepas maupun terpisah dengan mendengar kalam Allah tanpa suara maupun huruf sebagaimana orang-orang saleh melihat Zat Allah SWT tanpa jauhar maupun ardl. Maha Benar Allah yang hidup kekal, Maha Mengetahui, Maha Berkuasa, Maha Berkehendak, Maha Mendengar, Maha Melihat dan Berbicara dengan kehidupan, pengetahuan, penglihatan, serta perkataan.
8. PERBUATAN – PERBUATAN ALLAH
Adapun para makhluk yang diciptakan oleh Allah karena perbuatan-Nya dengan bentuk yang sebaik-baiknya, paling sempurna, dan paling bagus sesuai dengan keadilan-Nya. Sesungguhnya Allah SWT itu Maha Bijaksana dalam perbuatan-Nya dan Maha Adil dalam keputusan-Nya. Tidak bisa kita samakan, keadilan yang diberikan Allah dengan keadilan yang diberikan seorang hamba-Nya, karena dianggap kezaliman jika hamba bertindak pada milik orang lain, sedangkan Allah SWT tidak demikian. Sebab Allah SWT tidak bertindak atas milik orang lain, sehingga tidak dianggap kezaliman. Segala sesuatu seperti jin, manusia, setan, malaikat, langit, bumi, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda mati, jauhar, ardl, diciptakan-Nya dengan kekuasaan-Nya serta dulunya tidak ada dan tidak bewujud
Allah SWT memberikan pahala kepada hamba-hamba-Nya atas ketaatan mereka sebagai kemurahan-Nya, bukan karena harus dan wajib diberi. Allah ta’ala mewajibkan makhluk-makhluk-Nya untuk taat kepada-Nya melalui lisan nabi-nabi-Nya, bukan karena akal semata, tapi Allah mengutus Rasul serta menampakkan kebenaran mereka dengan mukjizat yang jelas. Maka mereka pun menyampaikan perintah, larangan, janji, serta ancaman-Nya dan mewajibkan manusia mempercayai apa-apa yang telah mereka sampaikan.
9. ARTI “ KALIMAT YANG KEDUA “
Maksudnya adalah kesaksian bagi Rasulullah Saw. Allah SWT mengutus rasul, nabi yang ummi, orang Quraisy yang member petunjuk, Muhammad Saw yang membawa risalah-Nya kepada seluruh bangsa Arab dan bangsa-bangsa lainnya, jin serta manusia. Maka Allah menghapus semua syari’at dengan syari’at-Nya, kecuali yang ditetapkan-Nya, dan Allah melebihkan beliau ata Nabi-Nabi lainnya serta menjadikannya pemimpin manusia.
Iman tidaklah sempurna dengan syahadat tauhid, yakni oerkataan Laa illaha illallah, jika ia tidak bergandengan dengan syahadat Rasul Saw, yakni pernyataan kita yang meyakini Muhammad sebagai Rasulullah. Allah mewajibkan manusia untuk mempercayainya dalam semua yang disampaikannya tentang dunia akhirat.
10. MEMBIMBING SECARA BERANGSUR
Ketahuilah bahwa anak kecil diawal prtumbuhannya siap menerima kebenaran tanpa bukti dengan fitrah dari Allah SWT, maka hendaklah kita mengajarkan mereka hakikat aqidah agar mereka menghapalnya. Biarkan mereka memahaminya sedikit demi sedikit hingga meresap ke dalam batinnya, sehingga mereka tidak perlu membuktikan hal itu dengan bukti-bukti.
11. ISLAM ITU TUNDUK DAN BERSERAH DIRI, SEDANGKAN IMAN ADALAH PENERIMAAN OLEH HATI
Allah SWT menyebut kedua kalimat di atas dalam kitab suci Al-Qur’an dan dimaksudkannya mengenai suatu hal. Sebagaimana firman Allah , “ lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati negeri itu, kecuali sebuah rumah dan mereka yang berserah diri “ . ( Q.S. Adz-Dzaariyat : 35-36 )
Di tempat itu tidak ada apapun kecuali hanya sebuah rumah. Allah menyebut pula keduanya sekali dengan dua arti yang berbeda dalam firman-Nya, “ Orang-orang Arab Badui itu berkata, “ Kami telah beriman “. Katakanlah (kepada mereka) kamu belum beriman, akan tetapi katakanlah kami telah tunduk “. (Q.S. Al-Hujurat : 14)
Maksudnya, banyak orang yang dirinya telah tunduk kepada Islam, tapi hati mereka tidak menerimanya. Naudzubillah.
Read More..
Langganan:
Postingan (Atom)